WATU PINAWETENGAN
WATU PINAWETENGAN
(By : Eric Rattu)
WATU PINAWETENGAN bisa diartikan sebagai batu tempat pembagian , batu ini adalah tempat dimana orang sub-suku Minahasa mula-mula berikrar sebagai satu keturunan yaitu keturunan TOAR dan LUMIMU'UT . Batu ini terletak di kecamatan Tompaso raya tepatnya berada di bukit desa Pinabetengan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal penulis (Liba) hanya memakan waktu tak sampai 10 menit menggunakan kendaraan bermotor dan kalau jalan kaki sekitar 45 menit.
Generasi muda tompaso masa kini kelihatannya kurang tertarik untuk melestarikan dan menggali kembali peninggalan nenek moyang yang telah banyak dilupakan, tentu saja itu sangat mengecewakan saya dan kita sebagai generasi muda minahasa , mengingat banyak teman-teman yang merasa canggung dan tidak memiliki ketertarikan untuk ke watu pinawetengan entah mengapa , ya mungkin tempat itu katanya adalah tempat yang penuh dengan hal yang mistis dan tak ada keuntungan untuk mereka, padahal tempat itu adalah tempat persatuan nenek moyang minahasa , tak tahu bagaimana kehidupan bangsa Minahasa hari ini tanpa adanya satu ikrar untuk bersatu (Maesa) mengusir penjajah/bangsa asing yang datang mengusik ketentraman di bumi Minahasa dan menurut penulis itu adalah sebuah kebanggaan bagi kita dan patut disyukuri.
(By : Eric Rattu)
WATU PINAWETENGAN bisa diartikan sebagai batu tempat pembagian , batu ini adalah tempat dimana orang sub-suku Minahasa mula-mula berikrar sebagai satu keturunan yaitu keturunan TOAR dan LUMIMU'UT . Batu ini terletak di kecamatan Tompaso raya tepatnya berada di bukit desa Pinabetengan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal penulis (Liba) hanya memakan waktu tak sampai 10 menit menggunakan kendaraan bermotor dan kalau jalan kaki sekitar 45 menit.
Generasi muda tompaso masa kini kelihatannya kurang tertarik untuk melestarikan dan menggali kembali peninggalan nenek moyang yang telah banyak dilupakan, tentu saja itu sangat mengecewakan saya dan kita sebagai generasi muda minahasa , mengingat banyak teman-teman yang merasa canggung dan tidak memiliki ketertarikan untuk ke watu pinawetengan entah mengapa , ya mungkin tempat itu katanya adalah tempat yang penuh dengan hal yang mistis dan tak ada keuntungan untuk mereka, padahal tempat itu adalah tempat persatuan nenek moyang minahasa , tak tahu bagaimana kehidupan bangsa Minahasa hari ini tanpa adanya satu ikrar untuk bersatu (Maesa) mengusir penjajah/bangsa asing yang datang mengusik ketentraman di bumi Minahasa dan menurut penulis itu adalah sebuah kebanggaan bagi kita dan patut disyukuri.
Jadi, menurut penulis untuk membalas semua kerja keras, darah dan keringat yang ditinggalkan nenek moyang kita , mengapa kita tidak melakukannya dengan menjaga , melestarikan dan menggali kembali peninggalan nenek moyang , baik secara benda, cerita, maupun bahasa . Tak tahukah kita bahwa itu adalah kekayaan dan keunikan budaya kita yang patut di banggakan dan diwariskan kepada anak cucu kita kelak. Sekian.


Komentar
Posting Komentar